Pengalamannya Pakai Tukang dan Hasilnya Setelah Renovasi Rumah, Simak 8 Plus Minusnya !

Picture : Pexels.com/ Tima Miroshnichenko

Kali ini saya mau ngomongin masalah pertukangan. Berbekal dari pengalaman dari renov besar rumah kami ditahun lalu banyak hal yang harus dipikirkan lagi tentang memakai jasa tukang. Dan jadinya  sekarang-sekarang ini kayak sedikit hati-hati kalau memilih jasa tukang. Pengalaman terakhir sudah beberapa kali panggil jasa tukang  yang mayoritas mereka minta biaya borongan untuk perbaikan di beberapa titik, namun hasil akhirnya kebanyakan juga kurang memuaskan. Dan ini bukan satu dua orang saja, tapi sudah lebih dari 3 kali panggil tukang dengan tukang yang berbeda-beda.

Sejujurnya renovasi rumah tahun lalu itu gak bikin kita puas sepenuhnya lho. Karena ada saja beberapa bagian yang mengecewakan. Titik kebocoran di dapur baru, yang sampai ini belum selesai juga, lalu pengecatan tangga ke lantai dua yang gak rapih, hingga saluran air atau talang yang di balkon yang ternyata kemarin itu gak kebuat. Alhasil air tumpahan air hujan dari alderon (penutup atap lantai atas) masuk semua ke void laundry kami, yang akhirnya menyebabkan banjir.  Pernah suatu momen juga dimana kami pergi keluar rumah sebentar. Saat itu hujan deras, yang mana ternyata menyebabkan banjir parah, gimana enggak, karena masuknya air hujan itu sampai ruang tengah dan kamar belakang. Debit air yang sebegitu besar yang jatuh dari lantai dua ke void tanpa talang membuat air hujan masuk ke sebagian ruangan dalam rumah. Tentu saja pas pulang kami syok banget lihat beberapa barang yang di lantai basah semua, bahkan bekasnya air juga masuk ke kamar. Beneran masih keliatan bekasnya yang membuat membuat kasur juga sebagian basah.


Kunjungi juga chanel youtube saya 

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Video : Youtube/ Catatan Anita

Kini meski talang air hujannnya sudah dibuat, momen gak enak itu kadang membuat saya ketakutan sendiri kalau-kalau bisa banjir lagi air bisa masuk ke dalam rumah lagi. Dari sini kami merasa hasil renovasi kemarin itu benar-benar gak perfect. Lalu case lainnya, masih adanya kebocoran di atap dapur, dimana sekarang ini kalau hujan deras masih suka keluar air megalir halus dari atap. Tentu saja dengan hal ini membuat kami tidak bisa langsung pasang kitchen set atau hood di bagian atasnya kompor. 

Dari pengalaman-pengalaman ini kami menilai kalau tukang-tukang itu sebenarnya bisa kerja tapi belum tentu cerdas dalam mengerjakannya. Gimana mereka bisa menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dan bisa mengatasi masalah sampai 100% selesai. Inilah yang menjadi masalah kami saat ini. Dimana mencari tukang yang betul-betul lihai itu susah-susah gampang ya ternyata. Ada yang sudah ketahuan kredibilitasnya sebagai tukang dan sudah kami percaya dari awal, tapi begitu endingnya mengecewakan. Ada juga yang sudah kami undang datang setidaknya untuk lihat dan cek masalah bangunannya, tapi ditunggu-tunggu gak datang sama sekali. Alasannya masih mengerjakan di tempat lain dan lainnya. Entah dia gak mau atau apa yang jelas ujung-ujungnya gak datang sama sekali. Ada juga yang sudah dipercaya, karena hasil terakhir memuaskan, eh tiba-tiba nomornya gak bisa dihubungi, Jadinya lost contact deh. Gemes kan!


Baca juga :


Kadang pernah tahu berita tentang seorang bapak sampai duduk di pinggir jalan dan menulis dirinya butuh kerjaan dan biasa nukang atau bisa kerja sebagai tukang. Tapi karena tidak adanya jalur yang membuat dirinya bekerja, jadinya nganggur. Sedangkan kami yang sedang butuh tukang tapi merasa kesulitan dengan tukang-tukang yang ada dan masih berharap dapat tukang yang kerjanya benar-benar berkualitas. Dunia itu memang aneh ya yang butuh kerja kesulitan kerja, yang butuh pekerja juga kesulitan nyari yang sesuai harapan. Seperti simbiosis mutualisme yang sulit menyatu. Kita tuh sama-sama membutuhkan pak, cuma kok gak gampang ya terkoneksinya.

Berita dari temen kantor suami yang katanya juga ketipu dengan tukang yang biasa ia percaya membuat kami merasa senasib dalam hal pertukangan ini. Parahnya ia sudah kasih uang borongan yang diminta tukang, tapi tiba-tiba tukangnya pergi begitu saja dan meninggalkan bangunan rumah yang berantakan karena masih setengah jalan. Kini kami dengar, ia langsung beralih menggunakan jasa kontraktor. Meski sedikit lebih mahal tapi jelas pengerjaannya. Ada surat kontrak di atas materai, perjanjian kontrak kerja dan sah di mata hukum. Yang membuat kedua belah pihak jgua sama-sama enak. Hati juga lebih damai daripada terus ngedumel tentang tukang yang gak amanah.


Picture : Pexels.com/ Ksenia Chernaya

Saya rasa memang ada positif negatif menggunakan tukang dan kontraktor. Dan itu semua kembali ke keputusan kita masing-masing. Apakah sudah menerima hasil yang akan diterima. Pengalaman-pengalaman ini menjadikan kami lebih berhati-hati dalam mempekerjan orang dan tentunya menginginkan hasil yang bagus.


Berikut hal yang menurut saya Plus Minus dalam menggunakan jasa tukang :

1. Tukang Borongan

Jika kesepakatannya borongan, pastikan kamu tahu berapa lama ia akan mengerjakan. Berapa banyak tukang yang akan dikerahkan dalam proyek itu. Karena dari situ kamu akan tahu seberapa cepat mereka mengerjakannya. Kenapa kepo gitu ? karena semakin lama mereka mengerjakan, semakin lama juga kamu ngontrak (jika selama renov kamu harus ngontrak dulu). 

2 Tukang Harian 

Jika kesepakatannya harian, maka kamu harus pantau kinerja tukang itu seperti apa. Karena harian bisa jadi alat untuk memperlama kerjaan. Dan ada saja tukang yang sudah di gaji harian atau seminggu sekali bayarannya, eh tapi berani kasbon besar di awal lho. Hmmm.. Ya kembali ke kamu yang punya kerjaan apa mau harian atau borongan aja.


Picture : Pexels.com/ Ksenia Chernaya


3. Kamu Harus Mengerti Kulitas Bahan Bangunan

Jika kesepakatannya borongan tenaga saja, pastikan kamu sudah tahu bahan-bahan apa saja yang mau dibeli. Survey tempat yang akan jadi tempat kamu belanja-belanja bahan bangunan. Jadi dari sini kamu bisa punya kendali atas kualitas barang dan harga bahan tersebut. Kalau kami dulu, untuk bahan perintilan kecil kami beli di material deket rumah saja. Tapi kalau bahan dalam kuantitas banyak atau memang perlu cari yang kualitas bagus, kami survey yang deket-deket rumah dulu, kalau gak memungkinkan belanja onlin saja.  Bahkan roaster saja kami beli online lho.

4. Pastikan Pegang No Tukang, Mandor atau Kenek Sekalian

Pastikan kamu memegang no handphone tukang, mandor atau bahkan kenek sekalian. Nomor ke satu, dua atau tiga dari si mandor. Minta semua nomor, karena kita gak pernah tahu apakah mereka akan kabur atau enggak di tengah jalan. Yah buat jaga-jaga aja. Karena hal itu bisa aja terjadi lho. Ya seperti pengalamannya temennya suami. Pastikan nomor-nomor yang kamu pegang itu bisa dihubungi. Dan tentunya lebh enak lagi kalau fast respond.


Picture : Pexels.com/ Ksenia Chernaya


5. Tahu Apa Yang Kamu Bangun Jangan Serahkan Semua Pada Tukang

Meski buta dengan hal pertukangan apalagi tentang renovasi bangunan, tapi paling enggaka pastikan kamu punya bekal mengenai bangunan yang akan kamu buat. Jangan sepenuhnya percaya tukang, karena kamu adalah yang punya uang bukan berarti kamu tunduk terus tukang bilang abcd. Setidaknya kamu punya juga ilmunya sedikit-sedikit. Misal, tentang luas ruangan yang mau dibuat, berapa banyak colokan listrik yang mau di pakai, bahan apa yang mau dipakai apakah kualitasnya bagus, sedang atau standar aja, lalu juga peletakan bak kontrol itu nanti dimana, keran dimana aja, dan lain sebagainya. Setidaknya tukang disini selain sebagai pelaksana jalannya projek, jadikan tukang sebagai tempat untuk berdiskusi saja, untuk mempertimbangkan bisa tidaknya hal tersebut diwujudkan. Apalagi kalau kita tidak pakai jasa arsitek tentunya kita sendirilah yang jelas dituntut tahu detail mengenai projek kita sendiri.

6. Jangan Percaya Tukang 100%

Percaya kepada tukang itu boleh tapi jangan 100%, Itu juga yang jadi pengalaman kami dalam memilih dan membeli pintu sliding door dari mempercayakan tukang yang sudah kami percayai. Saya cuma bisa kasih saran, sebaiknya sesibuk-sibuknya kamu pastikan kamu cari sendiri bahan-bahan rumah kamu. Toh kamu yang akan pakai dan gunakan. Sliding door kami memang bagus kualitasnya, tapi bisa dibilang kami di akali tukang dalam segi harga. Dua pintu sliding door yang kami pesan itu harga aslinya ternyata hanya 8 juta, tapi karna kami terlalu percaya ke tukang saat itu jadilah kami kena di harga 11 juta, menang 3 juta ya si tukang. Kalau di inget rasanya sebel juga. Mana anak buah sang pemilik toko pintu sliding door itu sempat datang ke rumah mau ambil, tapi saya bilang “lho sudah dipasang dan kita juga sudah bayar lunas ke tukang waktu kemarin”. Hmm… menyebalkan bukan.


Picture : Pexels.com/ Ivan Samkov


7. Bisa Nego Harga Dengan Tukang

Meski begitu keluhan-keluhan kami, plusnya dengan tukang kita masih bisa nego harga borongan. Masih bisa percaya kepada tukang karena sebelum-sebelumnya perintilan renovasi yang kecil-kecil dan tukang dibayar harian juga hasilnya memuasakan kok. 

8. Bisa Di ajak Diskusi Tentang Projek Renovasi

Tukang gak selalu jelek kerjanya, sebagian yang sudah bisa dipercaya tentu bisa dijadikan teman untuk berdiskusi cantik sambil ngopi-ngopi. Kita juga bisa bebas tanya maunya seperti ini dan itu dan gimana menurut pendapat tukang sebagai orang yang sudah berpengalaman. Tapi masukannya bisa juga kita terima atau tidak. Semua sesuai dengan kebutuhan kita apakah sejalan dengan saran tukang atau tidak. Jika tidak mungkin bisa dikompromikan lagi seharusnya seperti apa. 

Tukang juga manusia, yang kadang bikin salah dan gak sesuai keinginan kita sebagai pemilik projek. Tapi jika kesalahannya sudah fatal, kita juga jadi kapok pakai jasanya. Meski begitu, lagi-lagi semua keputusan kita mengenai renov rumah pakai jasa tukang harian, borongan atau kontraktor itu kita yang punya. Kita yang tahu kapasitas dana di kantong berapa, apakah sudah sesuai bangunan yang di bangun, apakah sudah siap menerima hasil karyanya si tukang nanti di belakang seperti apa, seperti bagus tidaknya hasil akhirnya. Karena setiap keputusan itu adalah resiko yang kita akan ambil.


Baca juga :

Post a Comment