Anak Yang Baru Lahir Bukanlah Kertas Kosong

Pic : pixabay.com


Berkaca dari pengalaman menjadi orang tua baru membuat saya mengerti bahwa seorang anak yang terlahir ke dunia ini memang sejatinya sudah memiliki bakat tersendiri. Dari dulu yang kita pahami adalah kalau anak yang terlahir di dunia ini bagaikan kertas kosong, tapi pada kenyataannya tidak. Ia sudah memiliki settingan sendiri atas dirinya. Seperti biji bunga matahari tidak akan tumbuh menjadi bunga mawar atau melati saat di tanam, tapi ia akan tetap tumbuh menjadi bunga matahari yang bunganya bulat sempurna ketika besar. 

Begitupun anak, ia sebenarnya sudah memiliki settingannya sendiri. Ia hanya butuh untuk di arahkan dan di bimbing. Semua anak itu pintar pada umumnya tapi ketika besar ia akan unggul dibidang yang ia minati, sukai dan memang memlunyai bakat terhadapnya. Di keseharian tanpa sadar sering anak menjadi bahan pembanding dengan anak lainnya. Ia yang belum bisa ini dan itu akan secara tidak langsung akan dibandingkan dengan anak lain yang sudah lebih unggul darinya. Contoh saja anak yang lebih kecil fisiknya akan secara langsung dibandingkan dengan anak yang lebih besar lainnya di usianya yang sama. Kalau ia sudah mengerti otomatis pasti ia akan sedih. Saya rasa cukup milestone saja yang menjadi acuan dalam mengawasi tumbuh kembang anaknya, meski pada kenyataannya akan ada saja yang membuat diri insecure terhadap perkembangannya.

Pic : pixabay.com


Setiap anak memiliki potensialnya sendiri, ketika sudah waktunya ia merangkak ia akan merangkak, ketika sudah waktunya ia jalan ia akan berjalan. Ia seperti sudah tersetting dengan baik pergerakan tumbuh kembangnya dari sebelum ia lahir. Bukan berdasarkan atas keinginan kita sebagai orang tuanya, tapi sesuai kapan si anak ini mau untuk melakukan hal itu jika memang sudah waktunya. Semua sudah tersetting dengan baik di otaknya, di sistem badannya. 

Pada akhirnya kita sebagai orang tua hanya membantunya tumbuh dengan baik, mendampinginya, mengarahkannya dan menjadi teman setia untuknya. Karena memang sebenarnya anak sudah tahu mau apa yang mau ia tuju dan lakukan ketika sudah pada waktunya.

Dalam sesi PTM (Parent Teacher Meeting) kemarin saya akan merekap ulang 4 rencana dalam membangun kebutuhan tumbuh kembang seorang anak.


Pic : pixabay.com


1. Early Chilhood (Need Physical, Order Sensory and Exploration)  Usia 0 - 6 Tahun 

Di awal kehidupan anak, anak sangat membutuhkan sentuhan fisik dari orang tuanya terutama ibunya. Makanya sudah naluri ia selalu membutuhkan ibunya untuk selalu berada di dekatnya. Ia akan merasa aman jika berada dekat dengan ibunya. Selanjutnya seiring perkembangnnya ia membutuhkan sensory atas ke lima indranya (penglihatan, pendengaran,  pengecepan, peraba dan penciuman). Semakin dilatih untuk berinteraksi untuk melatih kelima indranya, maka tumbuh kembangnya semakin baik. Begitupun dengan di kesehariannya anak-anak usia toddler sangat suka bermain, dunianya hanya bermain. Tapi sebenarnya disinilah ia sedang bereskplorasi untuk memenuhi kebutuhan sensorynya. Jika saja ia kurang atas kebutuhan tersebut maka akan terjadi ketimpangan atas tumbuh kembangnya di kedepannya.


2. Childhood (Need Cosmic, Education and Social Connection) Usia 6 - 12 Tahun

Anak-anak yang tumbuh dengan baik, secara tidak langsung mereka itu keliatan. Dari gesturenya, dari caranya ia menempatkan dirinya terhadap lingkungan. Pada kenyataanya manusia memang makhluk sosial, so demikian juga seorang anak membutuhkan tempat dimana ia bisa bermain dan belajar dengan happy. Mereka yang berusia 6-12 tahun membutuhkan tempat untuk bisa belajar mengikuti didalam suatu kelompok. Di usia ini mereka akan mulai tahu caranya belajar bersama bukan lagi menjadi pribadi yang individu. Mereka akan belajar caranya  adaptasi terhadap suatu kelompok yang lebih besar seperti kelas di sekolah dasar. Belajar lebih formal dan berinteraksi dengan lebih banyak anak dari sekolahnya di taman kanak-kanak. Mereka di usia ini belajar untuk fokus untuk bisa mengikuti pelajaran dengan formal di daalm kelas.


Pic : pixabay.com

 

3. Adolescense (Need to find their place in society) Usia 12- 18 Tahun

Di usia yang dibilang remaja ini, anak-anak sudah makin mampu berfikir kritis dan dewasa. Meski pemikirannya masih belum sepanjang orang dewasa tapi mereka sudah makin belajar dan menjelang matang untuk bisa di kasih tahu mana yang baik dan tidak. Di usia ini biasanya mereka punya prinsip sendiri, lebih keras sendiri karena mereka merasa tahu segalanya. Tapi justru disinilah peran orang tua yang harus lebih dekat. Karena mereka yang menginjak remaja ini hanya perlu di bimbing. Dari segala apa yang mereka pikirkan dan merasa itu benar, mereka akan mencari komunitasnya. Ketika mereka merasa diterima disitulah mereka akan merasa aman. 


4. Maturity (Need contribute ti the word) Usia 18- 24

Usia ini adalah usia dewasa, KTP sudah dapat dan sebagian mereka masih duduk di bangku perkuliahan. Meski tidak semua anak, tapi sebagiannya lagi mereka bekerja dan adapula yang sudah mampu menikah. Umur ini adalah usia matang, mereka mampu berfikir lebih dewasa atas menyikapi berbagai macam hal. Sudah tahu kesulitan harus kemana, dan sudah jelas tahu sesuatu itu baik buruknya. Tapi perlu digaris bawahi. Seorang anak yang di usia early childhoodnya kurang mendapatkan pemenuhan kebutuhan sensorynya akan jelas berdampak di usia ini. Contoh nyatanya, mereka yang kesulitan dalam menghadapi suatu masalah dan akan lebih jelas bersikap tantrum, menyalahkan orang lain, dan buruk dalam management emosionalnya. Gak nyangkanya ya, sebegitu pentingnya tumbuh kembang dulu di usia emasnya 0-6 tahunnya.


Baca juga,



Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form