Pic. : pixabay
Punya anak itu bagaikan belajar lagi dari awal atas segala aspek. Berbagai macam hal mulai dari yang recehan sampai yang penting harus banget belajar. Bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak dengan segala problematikanya. Bagi saya ketika punya anak itu telah banyak mengajarkan hal-hal yang dulu saya anggap remeh.
Mulai dari dari dalam kandungan ia perlu perhatian khusus, gak bisa saya tuh sembarangan makan. Bahkan yang kata orang gak papa kok kalau cuma sedikit aja, tapi bagi saya saat itu pantang. Semua demi perkembangannya tumbuh dengan baik di rahim ini. Telah lama perjuangan tersebut masa gak bisa tahan hanya karena makanan atau hal lain yang menurut saya krusial.
Mungkin orang lain dengan gampang makan duren seporsi, atau buah lain yang di anggap gakpapa tapi menurut medis bisa bikin mules atau bereaksi di perut. Dan bisa dengan santai aja makannya. Tapi tidak dengan saya secuilpun saya gak memakannya. Saat itu saya sempat keliyengan dan muntah-muntah karena makanan yang gak disangka bisa bikin saya teler banget setelahnya. Apa itu? Gudeg, iya karena itu saya jadi mabok di usia kandungan tergolong sudah tua. Bahan gudeg yang terbuat dari nangka itu yang rasanya manis itu telah membuat saya tidak berdaya untuk beberapa waktu itu di hari itu, untung saja setelah konsultasi via telp ke tante dan diresepkan obat untuk perut yang aman untuk bumil. Alhamdulilah keesokannya semua kembali normal dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
Pic : Pixabay
Dari dalam kandungan memang si kecil butuh perhatian lebih dan kita sebagai ibunya harus bisa peka dan memahaminya. Belum lagi segala kosmetik dan skincare semenjak hamil tidak saya gunakan lagi kecuali bedak, moisturizer, dan lipstik itupun sesekali. Saya gak mau ambil resiko dan males juga cari tahu mana yang boleh dan tidak toh seringnya saya di rumah dan itu bener-bener free kosmetik. Resikonya ya memang wajah ini lebih kusam kucel apalagi ditambah bengkak wajah khas wanita hamil dan sedikit menghitam karena saya ada pre eklamsi.
Ketika yaya makin besar, makin banyak hal yang harus saya pahami atas dirinya. Dia yang GTM, picky eater yang di tambah small eater di masa-masa empasinya. Lalu adanya alergi juga yang mengganggu tidur malemnya sangat amat menguras kesabaran yang mengasuhnya. ART hanyalah ART ia hanya bertugas membersihkan rumah, tapi anak sepenuhnya saya yang handle. Jadi tahu sendiri rasanya seperti apa jika dibayangkan. Harus memiliki ekstra sabar yang sabarnya seluas samudra.
Pic : pixabay
Hal ini semua tentu saja tidak ada di mata kuliah manapun, pelajaran hidup tentang memiliki anak dan mengasuhnya tidak ada pelajarannya. Semua berjalan di atas naluri keibuan yang secara otomatis berjalan. Kita hanya bisa melihat bagaimana dulu orang tua mengurus anak-anak dikesehariannya. Suatu pelajaran hidup yang sejatinya memang itu yang harus di lalui kecil di asuh orang tua, dewasa menikah akan mengasuh anaknya sendiri dengan ilmu yang seadanya. Syukur-syukur mau menimba ilmu parenting agar menjadi bekal dalam pengasuhan dan menghindari menjadi toxic parent, tapi bagaimana kalau ilmu parenting itu tidak selalu sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan apakah akan langsung menyerah saja dan limpahkan pada daycare atau baby sitter saja, tentu tidak bukan.
Makin kesini saya mempelajari satu persatu hal yang selama dulu sewaktu belum punya yaya gak pernah tau dan gak menganggap ini penting. Menjadi orang tua yang baik itu kini dilakukan dengan learn by doing. Memang menjadi ibu bukan berarti menjadi malaikat seutuhnya, tanpa salah dan khilaf tapi belajar dari kesalahan akan lebih baik untuk kedepannya.
Pic : Pixabay
Dari keseharian itu saya merangkum apa saja yang dibutuhkan si kecil untuk bisa memahami dunianya.
1. Ibu adalah dunianya
Bagaimanapun ia rewel dan membuat resah di keseharian, tetap ia akan merasa aman dan damai ketika bersama ibunya. Kemanapun ia melangka ketika sudah kenal orang lain selain ibu dan ayahnya, tetap ia akan mencari ibunya. Karena ibunya adalah segalanya, kehidupan pertamanya adalah bersama ibunya dalam alam rahim. Ia hidup karena ibunya yang mengusahakannya dengan menjaga nutrisinya dan kesehatannya selama di kandungan. Jadi pantas saja jika ibu bisa merasakan apa yang di rasakan anaknya, dan memiliki insting lebih dalam kepada anaknya dibanding ayah. Jadi ketika kita merasa kesal dan emosi atas tingkahnya ingat saja ibu adalah dunianya.
2. Anak butuh teman yang benar-benar bisa menemaninya
Ketika beranjak makin besar, yaya yang dulunya cuma bayi yang bisanya cuma nangis dan guling-guling di kasur saja kini berubah menjadi toddler yang tingkahnya banyak banget membuat kadang saya sendiri kewalahan. Tapi dia yang sudah pintar ngomong dan berkomentar membuat saya kadang suka speechless. Saat yaya sedang main yaya itu gak mau ditinggal sendirian dan suka nyeletuk, “Mama sini temenin aku”. Rasanya saya yang baru sebentar gak nemeninnya, kok dia jadi merasa kehilangan dan kesepian. Dengan adanya mama di sampingnya membuat ia merasa lebih tenang dan nyaman bermain. Karena yang ia butuhkan hanyalah orang tuanya yang berada di sampingnya.
Pic : Pixabay
3. Sisi emosional yang di akui
Kadang di kala cape kita susah memahami apa yang mereka inginkan dan rasakan tapi justru disitulah mereka sedang membutuhkan kita untuk bisa memahaminya. Yaya yang sedang banyak di fase banyak cerita, banyak berkomentar, banyak menyanyi dan minta ini itu memang sedang butuh perhatian yang khusus. Meski terkadang ia suka moody, tiba-tiba rewel, tiba-tiba senang, tiba-tiba nangis, yah begitulah toddler dengan segala keaktifannya. Yang ia inginkan hanyalah pengakuan atas semua perilakunya, di peluk, di rangkul dan di perhatikan dengan baik. Perilakunya yang random itu adalah tanda ia sedang tumbuh. Dari sini ia akan merasa di akui, di validasi atas segala apa yang ia rasakan. Dengan begitu ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan optimis kedepannya.
4. Dunia anak-anak adalah bermain
Sungguh memang mengasuh toddler itu tidak mudah. Sudah tingkahnya banyak di kesehariannya pun menguji kewarasan ortunya. Yang ia tahu hanyalah bermain dan bermain. Ia tidak perduli dengan sekitarnya. Karena memang nalar anak-anak seusianya belum sempurna seperti orang dewasa. Sudah menjadi kewajiban kalau kita harus lebih mengerti akan sikapnya, keinginannya dan apa yang dirasakannya. Semua kerandomannya itu memang fasenya dan ini semua tidak akan lama, karena ia tidak selamanya jadi anak kecil yang bersama kita selamanya. Cape dalam pengasuhan itu sudah jelas tapi kadang memang kita perlu disadarkan kalau ini semua tidak lama. Karena tiba-tiba ia akan besar dan tidak akan lagi mengganggu aktivitas kita.
Pic : Pixabay
5. Menerimanya meski ia belum sesuai
Sering banget kalau ada yang tidak sesuai dengan diri anak jadi bikin orang tua kepikiran, tidak secara langsung juga ia jadi alat pembanding dengan lainnya. Tidak dipungkiri ini akan terjadi jika kita terlalu fokus pada kurangnya bukan pada lebihnya. Memang ada saja hal yang dinilai kurang padahal masih banyak hal yang harus di syukuri. Begitupun tentang anak, ia yang lagi males makan mungkin saja sedang tidak enak badan, perutnya begah, pupnya bermasalah atau alerginya sedang kumat. Memahami apa yang dirasakan anak tanpa ia ngomong itu memang gak mudah. Kita dipaksa harus lebih cermat melihat kondisinya. Kembali lagi, ia hanya ingin diterima apa adanya. Karena ia sudah jadi versi terbaik atas dirinya. Sudah jadi tugas orang tuanya kalau ia mengeluh dan belum bisa mengadu, kita lah yang harus cari tau penyebabnya.
Menjadi seorang ibu memang harus bisa segalanya. Dirumah seorang ibu di paksa untuk bisa menjadi guru, koki, menjadi dokter yang jaga 24 jam, menjadi temannya bermain dan curhat, menjadi pahlawan pelindung untuknya, dan menjadi ibu yang hangat tempat paling pertama ia cari saat ia ingin kembali setelah cape akan dunia di sekelilingnya.





.jpg)