Kecemasan
Semua ibu baru pasti campur aduk rasanya ketika anak mau mendekati umur 2 tahun tapi belum ada tanda-tanda kosakatanya yang bertambah, kata-kata yang jelas dan mempunyai makna hanya bisa di hitung jari. Itupun yang saya alami. Di usianya yang menginjak 19 bulan saya sempat bertanya di bidan posyandu saat itu dan jawabannya, “tenang saja bu, nanti akan ada masanya ia mengalami ledakan kata di usia 20 bulan sampai 24 bulan. Tapi dengan catatan di rumah tidak ada screen time ya bu”. itu katanya.
Ketika masuk sekolah toddler montesori di usianya yang 21 bulan pun yaya masih belum memiliki kosakata yang banyak. Kata-katanya masih sedikit masih yang ia keluarkan. Meski begitu ia selalu dapat kontak mata dengan kami orang tuanya, dan dengan anggota keluarga lainnya. Dipanggilpun yaya tidak pernah mlengos selalu mau interaksi dan mengerti instruksi meski ia belum bisa mengungkapkannya. Hanya saja salah satu kekuranganya itu ia tidak mudah langsung interaksi atau membaur ketika berada di dalam lingkungan baru, ia selalu diam seolah menganalisa dengan siapa ia berhadapan dan baru bisa mau interaksi beberapa menit kemudian.
Perasaan cemas itu pasti ada, apalagi ketika liat anak tetangga yang umurnya hanya lebih tua dengannya 3 bulan, tapi ia sudah pintar sekali bicaranya. Kosakatanya banyak, bisa di ajak interaksi, instruksi dan lancar sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ah rasanya cemburu, tapi balik lagi setiap anak punya perkembangan sendiri-sendiri. Bagaimanapun rasanya ketika melihat anak orang lain lebih unggul pasti ada keinginan membandingkan, meskipun tidak diperbolehkan.
Menjadi dirinya sendiri
Yaya tetap yaya, ia punya cara sendiri dalam perkembangannya. Seperti dulu saat lama sekali di fase merangkak ia belum juga berdiri dan berjalan. Saya hanya berkeyakinan, insya allah ia akan jalan di waktu yang tepat yang ia mau, tidak perlu di khawatirkan dan di suruh buruan hayuk berdiri dan jalan. Begitupun juga saat menjelang fase bicara, saya yakin ia gak kenapa-kenapa toh selama ini screen time itu tidak pernah saya berikan kecuali sedang ada video call dengan umiknya di luar kota. Saat mulai mpasi pun saya masih keukeuh nyuapin yaya tanpa gadget atau tv. Meski lantai seringnya berantakan kotor karna makanan dan hal lainnya yang sangat amat menguji kesabaran, harus ekstra jagain dan beresinnya tapi saya masih yakin screen time itu tidak perlu. Saya masih bisa handle semuanya.
Disamping itu ada saja celotehan orang lain yang bilang, “wah masih kuat aja tanpa gadget”, “dia sih belum nyerah aja”. dan celotehan lainnya. Tapi saya masih yakin saya masih bisa. Bertahan tanpa gadget. Saya cuma berfikir yaya belum butuh, untuk apa saya berikan kalau itu nantinya bisa bikin dia tantrum, untuk apa saya kasih kalau malahan bisa bikin dia kecanduan, saya gak mau juga kalau saya sendiri jadi ikutan tantrum karena itu.
Yang di tanam itu yang di panen
Dan benar saja, apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai. Apa saja yang di stimulasikan kepada anak selama 2 tahun trakhir ini itulah yang di panen saat ini. Selama ini sebenarnya anak tuh mengerti apa yang kita bicarakan, ia merekam dengan baik, menganalisa dan menjadikannya database di otaknya . Yang nanti pada saat waktunya tiba akan ia keluarkan semuanya.
Sekolah menurut saya menjadi pemantiknya, sosialisi interaksi dikelas, ketemu dengan teman sebayanya dan segala agenda kelas di setiap pertemuannya. Membuat yaya jadi sekarang ini cerewet dan seluruh kata itu keluar semua. Tiba-tiba saja kosakata itu seperti meledak begitu saja. Database kata dalam otaknya keluar semua. Ia pun juga sudah mengerti instruksi, arahan, pemahaman kata baru yang langsung ia aplikasikan saat itu juga. Masya allah tabarakallah, alhamdulilah.
Disaat silih berganti saya mendapat info tentang anak-anak yang mengalami speech delay, dan harus terapi dengan rutin rasanya sedih mendengarnya. Waktu anak bermain atau tidur siang di rumah harus kepake untuk mendatangi rumah tumbuh kembang demi mendapat terapi bicaranya. Tenaga dan uang jelas harus keluar di setiap minggunya. Semoga ayah bunda yang anaknya mengalami itu dipermudah jalannya oleh Allah subhanahuata’ala, aamiin.
Dari pengalaman ini saya mau berbagi apa saja yang saya lakukan sampai yaya di usianya yang 2 tahun ini sudah pintar berbicara dan bisa dibilang cerewet untuk mengomentari apa saja plus selalu bertanya ini apa, untuk apa, kenapa, dan pertanyaan yang terus bersambung dari jawaban yang saya berikan.
1. No gadget please
Hal ini benar-benar no excuses, karena memang tidak ada manfaatnya sama sekali kepada anak yang usianya dibawah 2 tahun. Yang saya tahu anak usia 2 tahun saja hanya boleh screen time 1 jam dalam 24 jam. Karena anak dibawah 2 tahun hanya akan mendapatkan modhorotnya/ kerugiannya saja jika bersentuhan dengan screen time. Sudah banyak penelitiannya dan jikalau dibiarkan lama atau terus menerus dampak buruknya pada anak bisa terkena syndrom autisme.
2. Sering di ajak kontak mata
Sering di ajak ngobrol seakan ngobrol dengan orang dewasa yang mengerti kata-kata kita itu jurus yang saya ambil. Saya tidak pernah mengungkapkan kata-kata di depannya dengan bahasa cadel. Tapi bahasa yang benar yang di pakai sehari-harinya orang dewasa. Selain ngobrol dan di ajak bicara tentunya juga di tambahkan di ajak menyanyi bersama, itu sudah saya lakukan ke yaya sejak yaya dari bayi banget.
3. Berikan mainan pendukung
Mainan seperti peluit yang bisa ia tiup tiup, hal ini katanya bisa membantunya olah raga mulut, sehingga oromotornya terlatih. Selain itu juga ada namanya teether yang khusus bentuknya seperti silicon tapi yang lebih bergerigi sehingga saat ia gigit-gigit itupun bisa melatihnya rongga mulutnya untuk bisa berbicara.
4. Peran Ayah
Meskipun ibu sudah berusaha maksimal dalam kesehariannya, jika peran ayah kurang rasanya sayang saja. Karena disinilah nilai plusnya. Ayah yang suka ngajak ngobrol, bacakan buku cerita sebelum tidur akan membuat otaknya terstimulus lebih baik. Itu lah yang ayahnya yaya suka lakukan interaksi dengannya. Meski ia belum mengerti tapi yaya itu merekam dengan baik. Ayah yang mempunyai waktu kualitas dengan anak dengan baik terbukti dari penilitian, di kedepannya nilai anak di akademis lebih unggul. Waktu ayah memang sedikit karena sibuk bekerja seharian, tapi setidaknya di waktu yang sedikit itu adalah waktu yang berkualitas dengan anaknya.
5. Sekolah
Tidak dipungkiri memang sekolah memberikan peran penting dalam tumbuh kembang yaya. Ledakan kata itu sepertinya pemantiknya adalah sekolah. Meski seminggu cuma 2 kali saja sekolahnya nyatanya ini memberikan dampak baik baginya. Disana ada interaksi dengan sebayanya, dengan gurunya, ada aktivitas sensori yang beda-beda setiap pertemuan yang membuat berkembang dengan baik. Dari sini pula kata-kata baru itu muncul, seperti teteh, miss ana, yaya kola ma, dan kata-kata lainnya. Kosakata barupun suka bertambah bertambah usianya setiap hari.
6. Buku dan mainan edukasi
Buku itu memang jendela dunia, dari buku ia bisa melihat apa yang ada di sekitarnya. Sayapun sebisa mungkin membacakan buku sejak ia bayi. Lagi-lagi pemikiran saya cuma satu. Anak ini meski bayi itu mengerti lho cuma ia belum bisa bicara saja, bahkan ia mengerti apa yang saya bilang ketika dalam kandungan. Jadi gak ada alasan saya mengangap ia hanya seorang bayi saja. Tapi bagi saya ia sedang merekam, mendengar dan mempelajari apa yang saya berikan kepadanya. Sehingga buku dan mainan edukasi itu saya berikan meski umurnya belum sesuai dengan umurnya agar ia terlatih sejak dini.
7. Alquran
Kata orang perdengarkan saja musik mozart. tapi bagi saya perdengarkan dia alunan ayat suci itu jauh lebih baik baginnya. Dan ini sudah dilakukan sejak dalam kandungan. Saya percaya otaknya sedang berkembang sehingga yang ia butuhkan adalah kalam ilahi yang menciptakannya. Sudah ada penelitiannya kalau diperdengarkan ayat suci akan membuat susunan garis-garis tipis di dalam otaknya itu menyambung dengan baik, dimana garis-garis yang menyambung satu sama lain itu adalah tanda kecerdasan otaknya sedang berkembang menaiki level.
Kecerdasan anak dalam berbahasa sejak dini adalah nilai plus untuknya dalam dunia tumbuh kembangnya, ia yang newbie di dunia ini harus memahami bahasa orang tuanya da lingkungannya dengan baik. Jika ia cepat tanggap mengerti dan memahami dengan baik artinya kercerdasan bahsanya sedang berjalan dan sedang berkembang pesat. Kecerdasan bahasa yang di ikuti dengan kognitifnya akan membuat ia gampang melahap pelajaran apapun di depannya nanti. Karena ini juga berhubungan dengan IQ nya nanti.
Setiap anak memang berbeda-beda perkembangannya tapi jika ada keganjilan di masa pertumbuhan golden agenya, sangatlah amat disarankan untuk segera di lakukan tindakan sesegera mungkin untuknya. Semoga cerita ini bisa menginspirasi siapapun di luar sana. Dan yang mengalami kesulitan semoga Allah berikan kemudahan dan kemudahan.
Baca juga,
Pertama kali ke Scientia Square Park di Gading Serpong di hari ulang tahun Mazaya
List barang toddler, Aplikasi wajib pakai dan Kesan selama di Malaysia
Pengalaman Menginap di Hotel Royal Safari Garden, Sekaligus ke Taman Safari
Pengalaman Mengesankan Berangkat Ke Malaysia Hanya Bersama Toddler
.jpg)






